Cyber Space Battlefield

Cyber Space suatu negara adalah potensi medan laga atau mandala perang baru dalam teknologi Informasi yang tidak mematikan tapi dapat melumpuhkan, dengan bekerja melumpuhkan sistem, mulai dari skala mikro sampai kepada mengganggu kedaulatan negara.

oleh Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

Sjafriesjamsoeddin.id – Cyber space suatu negara urgensinya mendorong kemajuan teknologi dan informasi sehingga menjadi kemampuan daya saing antara suatu negara dengan negara lainnya.

Teknologi dan Informasi dalam cyber space memberikan kemungkinan kepada kelompok atau jaringan ancaman non state actors yang melakukan serangan ke akses internet – komputer atau telecommunication devices yang tidak mudah melakukan pembalasan, karena tidak jelas pihak yang mendukung dan mengkontrol operasinya, kecuali ada pengakuan dari pelaku.

Era perang asimetris dewasa ini ada altenatif dalam melakukan offensif terhadap negara lawan tanpa menyerang kekuatan militernya, tetapi pihak penyerang cukup melumpuhkan sistem komputer bandara yang berakibat sistem kontrol pesawat rusak dan terpaksa operasional bandara ditutup.

Cyber Space muncul merupakan mandala perang baru dalam dunia maya (cyber space) akibat kemajuan di bidang teknologi dan komunikasi. Selain hal yang positif untuk memudahkan interaksi interen dan antar negara, tetapi juga menghadirkan tantangan multidimensi sebagai ancaman baru di dunia maya, dikenal dengan cyber threat yang dapat dilakukan oleh aktor negara (state actor) dan juga bukan negara (non state actor).

Cyber Threat dapat bermotif kepentingan individu, kelompok dan negara yang tidak mudah diantisipasi karena sifatnya yang non konvensional, tidak mengenal front dan sasaran sangat luas. Ini juga yang menempatkan cyber space battlefield ada di dalam pola perang Asimetris.

Cyber space dalam realita telah terjadi peningkatan jaringan komputer secara global (Global Network) yang tentu saja tanpa kenal batas teritori (borderless) sehingga tidak mudah bagi pemerintah untuk melakukan kontrol atas on-line behaviour. Fenomena on-line dengan physical location menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mengatur fenomena global ini.

Pada era globalisasi yang paralel dengan kemajuan Teknologi Informasi yang mendorong perluasan ancaman non tradisional dimensi non militer mengharuskan negara memiliki cyber security.

Pertemuan CISO (Chief Information System Officer) ini sangat penting bahkan memiliki nilai yang strategis (strategic value) karena implikasi globalisasi telah menimbulkan perubahan karakter perang dari convensional warfare yang bersifat linier menjadi perang asymmetric (asymmetric warfare) yang tidak konvensional, penyelesaiannya tidak bisa dilakukan secara murni kekuatan militer tetapi perlu kolaborasi mengatasi ancaman itu yang dikenal dengan ancaman non tradisional. Kolaborasi tersebut dalam bentuk kerjasama mengedepankan pola pikir non konvensional untuk meniadakan Asymmetric Enemy.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *