Industri Pertahanan Penopang Sistem Pertahanan Negara (Part 2)

Undang-Undang Industri Pertahanan

Sjafriesjamsoeddin.id – Pada tahun 2010, presiden telah membentuk suatu badan kebijakan nasional industri pertahanan yang disebut Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Tugas yang diemban oleh KKIP adalah mengembangkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri baik alutsista maupun nonalutsista. Sejak saat itu Indonesia sebenarnya telah memiliki visi, misi, dan grand strategy pembangunan industri pertahanan. Dan pada tahun 2012, pemerintah dan DPR menetapkan UU No. 16 tentang Industri Pertahanan sebagai legalisasi dan legitimasi menghidupkan dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri. Dengan menggunakan perangkat pengaturan yang tegas dan jelas, serta wujud pembangunan sistem industri yang sistematis dan terorganisasi, efektifitas dan efisiensi pemberdayaan segenap kemampuan industri nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan dapat ditingkatkan. Undang-Undang Industri Pertahanan merupakan landasan hukum dalam mendorong dan memajukan pertumbuhan industri yang mampu mencapai kemandirian pemenuhan kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan.

Kemhan sebagai pembina industri pertahanan, berkepentingan untuk memberikan peluang kepada industri pertahanan di dalam negeri untuk memasok kebutuhan. Bahkan Kemhan mendorong industri pertahanan dalam negeri untuk bisa melakukan ekspor produk mereka ke luar negeri. Seperti pistol, senjata serbu, mortir dan kendaraan tempur roda ban (Panser Anoa) dari PT. Pindad selain sudah mendukung kebutuhan TNI AD juga sudah diekspor ke beberapa negara, demikian pula dengan beberapa pesawat angkut sedang produksi PT Dirgantara Indonesia.

Mandiri Tidak Tergantung

Suatu negara yang kuat akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan industri teknologi pertahanan yang mandiri. Filosofi ini penting untuk mendukung misi negara menjaga kedaulatan negara dan keutuhan wilayah. Dengan  industri  pertahanan, kita tidak lagi tergantung kepada negara lain, tetapi bangsa kita sendiri mampu memenuhi kebutuhan bagi angkatan perangnya.

Dengan industri pertahanan, kelangsungan pertahanan/ pertempuran dapat dipelihara, embargo dapat diminimalkan, kebutuhan alutsista dapat dipenuhi secara mandiri (self reliance), serta akan memberikan kontribusi ekonomi secara makro dalam menyediakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan menghemat devisa. Saat ini, industri pertahanan telah bangkit dengan kemampuan produksi kendaraan tempur, pesawat angkut sedang dan kapal patroli. Hal ini tentunya sangat membesarkan hati kita sebagai bangsa. Bahwa kita tidak hanya bergantung pada negara lain, tetapi mampu memenuhi sendiri kebutuhan angkatan perang kita.

Baca juga Industri Pertahanan Penopang Sistem Pertahanan Negara (Part 1)

Kemampuan industri dalam negeri kita sekarang ini sudah pada tingkat teknologi menengah. Artinya industri pertahanan kita sudah dapat membuat sendiri dan sudah digunakan oleh TNI, sebagai contoh:

  • Alutsista darat buatan PT. Pindad mulai dari pistol dan senjata serbu sampai mortir serta kendaraan tempur roda ban (Panser Anoa) sudah mendukung kebutuhan TNI-AD. Bahkan produk PT. Pindad itu sekarang sudah berstandarisasi PBB, demikian juga kendaraan taktis pengintainy Saat ini sedang dilakukan retrofit kendaraan tempur roda rantai (Tank AMX-13) yang merupakan awal membangun tank ringan. Setelah itu diharapkan kita bisa membuat sendiri tank ringan sampai berat.
  • alutsista laut, kita bahkan memiliki beberapa industri pertahanan dalam negeri yang bisa diandalkan. PT. PAL kita andalkan untuk pembuatan kapal perang skala besar seperti class korvet dan kapal selam. PT. PAL juga kita dorong untuk membuat kapal perang untuk tanker. Kita juga memiliki badan usaha milik negara yang lain yaitu PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari. BUMN ini kita beri porsi untuk membangun Landing Ship Tank atau kapal pengangkut tank ringan dan sedang. Industri pertahanan swasta juga sudah memberikan kontribusi besar untuk kapal patroli cepat yang ukuran 60 m ke bawah seperti Palindo, Lundin, Anugrah.
  • Untuk alutsista udara, PT. Dirgantara Indonesia kini sedang mengembangkan joint production dengan Airbus Military untuk membangun pesawat angkut sedang CN 295. Kita sangat berkepentingan untuk meningkatkan kemampuan memproduksi pesawat angkut ringan seperti C-212 sampai CN 235 dan CN 295 yang bermuatan 50 penerjun. Hal yang sama kita lakukan dalam pembuatan helikopter serbu Bell- 412 dan heli Cougar 725. PT. Dirgantara Indonesia diharapkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan dari TNI dan cocok untuk operasi kemanusiaan.

Saat ini industri pertahanan PT. PAL bahkan perlu untuk merekrut tenaga terampil umur 18 – 20 tahun agar mereka siap digunakan dalam pembangunan kapal selam yang diharapkan bisa kita lakukan sendiri pada tahun 2020, minimal kita sudah mandiri dalam over haul kapal selam. TOT ini diawali dengan TOT Sumber Daya Manusia yang kemudian diikuti dengan TOT peralatan. Telah disiapkan 100 lebih personel untuk kita kirim ke Korea dan terlihat animonya cukup besar. Berikutnya pemerintah harus memikirkan biaya pembangunan infrastruktur kapal selam di PT. PAL. Sedangkan TOT PKR (Perusak Kawal Rudal) akan diberangkatkan 50 orang ke Belanda untuk bekerja sama dengan Damen Sphelde Navalship Building Belanda.

TOT Pesawat jet tempur kita lakukan melalui proyek jangka panjang dalam pembangunan pesawat tempur KFX dan IFX generasi 4,5 yang pada saat ini sudah pada proses desain dan pengiriman personel ke Korea. Kita punya kontribusi yang sama dengan Korea dengan target pada akhir 2020 sudah mempunyai satu pabrik jet tempur.

Pada saat kita membeli tank berat (MBT Leopard) dari Jerman, dalam paket kontrak kita meminta adanya transfer of technology. Pihak Jerman menyetujui dalam pemeliharaan pascajual, kita akan mendapat kesempatan untuk melakukannya sendiri dengan pendampingan pihak produsen. Bahkan  kita juga  berencana untuk membuat pabrik amunisi MBT yang spesifik itu sehingga PT. Pindad kelak dapat menjadi pemasok amunisi MBT di Asia. (Red/Alfian)

Bersambung…

Industri Pertahanan Penopang SIstem Pertahanan Negara (Part 3)

 

Sumber: Buku Komitmen dan Perubahan: Suatu Persepsi dan Perspektif, Karya Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, 2016.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *