Interaksi Profesi Sipil dan Militer

Oleh Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

 

“…fenomena efek milenium terus mendesak bahkan sudah terjadi akselerasi di kalangan generasi milenium tidak terkecuali di Indonesia yang merubah tata pikir intelektual generasi bangsa kini dan mendatang, di mana dikotomi Sipil dan Militer akan sirna dengan tuntutan Integrated Response to Protect the Country yang maknanya menyatu tanpa beda dan jauhkan sikap ego tampilan atribut dan aksesoris kewenangan”.

Sistemik
Observasi global saat ini membuka mata dan pikiran dunia bahwa semakin jelas telah terbentuk secara sistemik kepentingan politik dan ekonomi sebagai alternatif pilihan strategi vital mengelola manajemen makro bahkan mikro dari suatu negara.

Ditambah lagi fenomena efek milenium terus mendesak bahkan sudah terjadi akselerasi di kalangan generasi milenium tidak terkecuali di Indonesia yang merubah tata pikir intelektual generasi bangsa kini dan mendatang, di mana dikotomi Sipil dan Militer akan sirna dengan tuntutan Integrated Response to Protect the Country yang maknanya menyatu tanpa beda dan jauhkan sikap ego tampilan atribut dan aksesoris kewenangan. Sebab hal ini hanya menjadi topeng lucu di mata rakyat yang sebaliknya menggerus wibawa negara.

Kembali ke urusan sistemik, Indonesia tidak boleh absen dan secara terus menerus perlu melakukan aktivasi estimasi memaknai peran Non State Actors yang bisa berpengaruh pada area politis dan ekonomi di Indonesia pada era milenium kini dan mendatang. Dalam ilmu militer dikenal istilah “Selubung Taktis” yang secara populer bisa dipahami sebagai kemasan kepentingan untuk maksud tertentu yang digunakan dalam suatu iklim transisional yang bisa dimanfaatkan oleh Non State Actors. Kepekaan taktis seperti ini tidak boleh diabaikan dan sebaliknya perlu menjadi National Security Awareness.

Latar Belakang Interaksi
Saat ini interaksi Sipil dan Militer sudah terbukti mendunia digunakan untuk menyelesaikan semua permasalahan kelangsungan hidup kemanusiaan dan kenegaraan, lebih lagi menjadi strategi solusi era demokrasi yang belum permanen.

Faktor dominan berpengaruh kepada transisi era demokrasi adalah geopolitik – power – budaya. Rasa dan rasio mayoritas masyarakat tidak sepenuhnya memahami ketiga faktor tersebut dan juga tidak mudah diukur dengan angka statistik, sebaliknya bisa dijamah dengan pendekatan kultur historis walaupun perlu waktu yang lama mengelolanya.

Di Indonesia hubungan Milter dalam masyarakat mempunyai nilai kultur dan historis yang sudah dan akan tetap berlangsung lama. Bahu membahu latar belakang Sipil dan Militer dalam melindungi negara kita masih merupakan “Condicio Sine Qua Non”.

Revitalisasi peran militer Indonesia di era reformasi di luar dugaan, justru menjadi pilar kuat di hati rakyat. Tidak dapat dibayangkan bila TNI terus berada pada era Otoritarian dengan dwifungsinya jika diteruskan mungkin akan meningkat menjadi “Multi Fungsi” yang tidak boleh terjadi lagi bagi siapapun institusi negara pada era demokrasi. Walaupun demikian TNI sudah nyaman secara institusi harus taat kepada area konstitusi UU TNI, namun kultur individu juga harus paham konsekuensi logis berpolitik praktis yang melanggar konstitusi.

Peran militer masa damai dan darurat bersifat “Ultima Ratio” yang bukan penentu akhir melainkan elemen utama menyelamatkan dan mempertahankan kelangsungan hidup Bangsa dan Negara pada kondisi kritis dan krisis. Di sini pula tantangan bagi kepemimpinan TNI untuk mawas diri menjaga tampilan alamiah keprajuritan membawakan Jatidiri TNI.

Spektrum Kerjasama
Dunia militer hanya ada dua pilihan kerjasama Sipil dan Militer, dalam misi kemanusiaan (Humanitarian Action) dan misi politik negara (Military Action) yang mana penggunaan kekuatan militer menjadi wewenang keputusan politik otoritas sipil yang berdaulat, waktu penugasan terbatas dan lingkupnya pada area stabilisasi dan rekonstruksi krisis. Secara universal kapabilitas dan kredibilitas sipil sangat dominan dan berkembang pesat di berbagai aspek politik – ekonomi dan teknologi yang merupakan ciri Civil Society dari masa ke masa.

Pendekatan mutualistis dan interdependensi serta konsultasi individu dan institusi merupakan suatu perekat yang produktif tanpa menimbulkan kooptasi satu sama lain. Ini juga menjadi tantangan psikologis bagi keduanya, apalagi prinsip militer profesional dalam kerjasama dengan sipil memegang azas netral dam imparsial.

Sekali lagi di – era perang asimetrik Negara perlu mencermati interaksi peran berlatar belakang Sipil dan Militer dalam mandala perang baru merespon peran Non State Actors Threat terselubung yang bisa menjadi sistemik di negeri ini. (Red/Bobby).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *