Kisah Prabowo, Suryo, dan Sjafrie: Lulus Akmil, Melewati Masa Konflik

Sjafriesjamsoeddin.id – Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menunjuk dua rekannya saat di Akmil dulu untuk masuk ke Kemenhan. Mereka adalah Sjafrie Sjamsoeddin dan J Suryo Prabowo. Prabowo pernah bersama mereka berdua ketika melewati berbagai masalah negeri pada zaman Orde Baru.

Prabowo merupakan lulusan Akmil angkatan 1974. Dia lulus dari ‘candradimuka taruna’ Lembah Tidar itu bersama mantan Menhan Ryamizard Ryacudu dan Sjafrie yang kini ditunjuk menjadi penasihat khusus Menhan.

Ketika lulus dari Akmil, Prabowo mengawali karirnya sebagai seorang Letnan Dua. Pada 1976, dia kemudian bertugas di korps baret merah, yang saat itu bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Penugasan pertamannya ialah komandan peleton pada Grup I/Para Komando yang menjadi bagian dari pasukan operasi Tim Nanggala di Timor Timur.

Salim Said, dalam bukunya yang berjudul ‘Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto’, mencatat, setelah lulus dari Akmil Sjafrie juga memilih masuk Kopassandha. Padahal Sjafrie punya tiga pilihan karir.

Sementara itu, Suryo Prabowo, yang kini dipercaya jadi Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), lulus pada 1976. Sebagaimana dikutip dari buku ‘Si Bengal Jadi Jenderal’ karya Maria Dominique Setiawan & Tony Setiawan, Suryo kemudian menjadi perwira Zeni Kodam Bukit Barisan (Sumatera Utara) yang sering diperbantukan ke pasukan-pasukan dan satuan tugas di Timor Timur.

Prabowo pernah melewati beberapa rangkaian masalah konflik di negeri ini selama masa Orde Baru, bersama mereka berdua.

Prabowo dan Sjafrie di Pusaran Kerusuhan 1998

Prabowo dan Sjafrie pernah melewati peristiwa kerusuhan 1998 bersama-sama. Saat itu, keduanya sama-sama duduk di posisi strategis di Jakarta. Sjafrie duduk di posisi Panglima Kodam Jaya (Pangdam). Sedangkan Prabowo ditunjuk sebagai Panglima Kostrad. Intinya, Soeharto hanya memilih orang-orang yang dikenalnya secara pribadi.

Saat peristiwa Mei 1998 meletus, keduanya ikut masuk pusaran peristiwa kerusuhan itu. Sebagaimana dicatat Mayjen (Purn) Kivlan Zen dalam buku ‘Konflik dan Integrasi TNI-AD’, Prabowo dan Sjafrie turut menyiapkan pasukan untuk menahan massa. Ketika itu, massa menuntut Soeharto lengser lantaran masa krisis yang tak kunjung usai.

“Karena Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin sebagai Pangdam Jaya kekurangan pasukan dan meminta ke Kostrad, maka Kostrad menyiapkan pasukan tersebut,” tulis Kivlan.

Namun, ketika Soeharto lengser, Prabowo dan Sjafrie punya jalan yang berbeda. Sjafrie tetap menyandang pangkat Jenderal, hingga pada 6 Januari 2010, ia resmi menjadi Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sedangkan Prabowo dibebastugaskan dari militer pada Juli 1998 oleh Dewan Kehormatan Perwira. Setelah itu, Prabowo melanglang buana ke berbagai negara sembari belajar menjalankan bisnisnya.

Prabowo dan Suryo Prabowo di Timtim

Suryo Prabowo merupakan kawan lama Prabowo saat bertugas di Timor Timur (Timtim). Setelah lulus dari Akmil, Suryo Prabowo masuk ke kesatuan Zeni. Dia sempat dipromosikan untuk menjadi Danrem di Timtim. Namun Suryo saat itu menolak. Timtim menjadi daerah konflik, lantaran tanah jajahan Portugal itu hendak memisahkan diri.

Suryo Prabowo kemudian banyak menjalankan tugasnya sebagai serdadu di Timtim pada 1976. Saat itu Timtim masih menjadi bagian Indonesia. Seperti dicatat Cordula Maria Rien Kuntari, dalam buku ‘Timor Timur Satu Menit Terakhir’, Suryo kemudian wakil komandan Indonesia Task Force in East Timor (ITFET) dan Wakil Gubernur Timor Timur.

Prabowo sendiri pernah menjadi bagian dari pasukan operasi Tim Nanggala Timtim. Prabowo kemudian menjabat sebagai Wakil Komandan Detasemen Khusus 81 di Kopassandha.

Zaman berganti dan kepemimpinan baru bertunas. Kini, Prabowo bisa kembali bereuni dengan dua kawan lamanya, yang pernah bersama-sama melewati peristiwa konflik di negeri ini.

Sumber: Detik.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *